Laman

Rabu, 01 Maret 2017

Sembunyikan Ibu Jarimu, maka Ia Takkan Berani Padamu



Petualangan mendorong sepeda pada POSTINGAN SEBELUMNYA masih berlanjut.

Meski mendorong sepeda sejak tadi, namun sama sekali tidak ada keringat entah karena dinginnya udara atau bisa juga ini tanda kurang sehatnya saya, seperti yang pernah dikatakan salah seorang teman ketika kami sedang memakan makanan pedas dan ia sudah bercucuran keringat sementara jidat saya masih kering-kering saja meski lidah sudah seperti terbakar. Entah!

Hal yang paling saya sukai—seperti anak kecil yang menjumpai perosotan­—adalah ketika menemui jalanan menurun. Bisa langsung duduk di saddle, membiarkannya melaju tanpa harus meroda.

Saya berbelok ke arah kanan, keluar dari jalan raya menuju jalan setapak. Suara aliran air mulai terdengar, semakin saya melangkah semakin jelas pula hingga dengan jelas tampak sungai dikelilingi pohon-pohon besar tak berdaun. Indah seperti di film-film petualangan. Sambil melangkah saya terus memperhatikan layar hp, ah, aplikasi Maps mengecewakan, dari gps-nya saya sudah berdiri di tengah jembatan di atas aliran sungai, tapi pada kenyataannya kaki masih memijak di jalan yang tersusun dari paving block tersebut. I couldn’t find any bridge. Kecewa dengan itu, saya pun mendekati aliran sungai setelah meletakkan sepeda begitu saja di tepi jalan. Suara air cukup menenangkan. 

Sebenarnya ingin sekali saya merasakan air sungai yang entah seberapa derajat dinginnya itu, tapi tiba-tiba yang muncul di pikiran adalah jangan sampai tiba-tiba ada buaya di sungai ini lalu menerkam tangan saya sebagai sarapan pagi mereka, ngeri. Ah, ini karena kebanyakan nonton film­. Makanya, saya terus saja berjalan sambil menikmati. 

Semakin saya berjalan mengikuti pola jalan setapak yang sepertinya terbentuk dengan sendirinya setelah berkali-kali dilalui manusia, semakin terasa nikmat udara dingin menembus kulit. Tiba-tiba seekor anjing hitam besar dari depan berlari ke arah ku sambil mengonggong, taringnya nampak jelas dengan kedua telinga tegak ke atas. I don’t know anjing jenis apa—di Aberdeen terlalu banyak anjing dari yang paling nge-gemes-in sampai yang paling sangar.

Karena pergerakannya sangat cepat, saya cuma bisa diam, tegak, dan tak lupa saya mengepalkan kedua tangan dengan posisi mengenggam ibu jari sebagaimana yang pernah diajarkan oleh entah siapa ketika saya masih kecil bahwa kalau lewat di depan anjing jangan lari tapi cukup sembunyikan kedua ibu jarimu, maka ia takkan berani.

Pasrah, tapi saya tidak menutup mata, sebaliknya saya menatapnya balik. Setidaknya jika teman-teman menertawakan saya karena digigit anjing, saya bisa menjawab kalau saya pun melakukan perlawanan. 

Ha! Tiba-tiba berputar balik dan menghilang di balik semak-semak. How lucky I was!
Apa ini karena kepalang tangan saya. Entah, saya pun tidak yakin meskipun ini kesekian kalinya saya membuktikan keampuhan ajaran itu namun tidak ada atau belum ada alasan ilmiah. Ah, ada Zat yang Maha Menolong dan aksi menyembunyikan ibu jari hanya bentuk sugesti terhadap diri sendiri. Mungkin apa pun bentuk action-nya jika kita mensugesti diri sendiri untuk percaya, hasilnya akan sama juga. Entah!

Tidak jera dengan situasi tadi, saya masih terus menyusuri sungai, tapi kaki tidak sesentak sebelumnya. Dari kejauhan si Blacky muncul kembali, tanpa pikir panjang saya langsung memutar badan berlari mengambil sepeda, mendorongnya pergi. Tak satu pun foto sempat diambil.

Matahari mulai terbit perlahan dari timur, cahayanya terlalu menyilaukan mata, sayangnya tidak sehangat matahari pagi di khatulistiwa. Meski sedikit kecewa sebab tak menemukan jembatan, dan kurang puas menikmati sungai namun saya bahagia karena berhasil melawan ketakutan. 

Di jalan yang agak lenggang di belakang gedung kotak perpustakaan kampus, saya berhenti sejenak. Rencananya mau mencungkirbalikkan sepeda, pura-pura sedang meratapi sepeda yang rusak—meski sebenarnya betul-betul rusak—sambil menunjukkan kaos tangan yang penuh oli untuk mengambil sebuah gambar. Pencitraan. Ini tidak baik, sangat tidak bisa ditiru.

Setelah sepeda dibalik, naluri mendorong saya, menarik rantai depan dengan kedua tangan lalu satu kaki (sepatu) menahan rantai belakang. Surprisingly, rantai yang tadinya terjepit berhasil keluar dan kembali ke derailleur. Alhamdulillah, rasanya ingin melompat. Seorang perempuan paruh baya yang akan menyeberang jalan diikuti anjingnya melempar senyum lalu bertanya, “Are you fine?”
“Yes, yes, that’s fine.” Sambil senyum ke ibunya, saya menaiki sepeda, melaju pulang. Saking senangnya saya lupa mengambil foto untuk pencitraan tadi. Untunglah.

Berjalanlah meski mungkin kamu tidak menemukan kebahagiaan yang kamu rencanakan. Namun percayalah ada kebahagiaan lain yang menantimu hampir di setiap persinggahan. Silakan kamu pilih.

Tidak ada komentar: